Langit di atas Desa Rinjani mulai memerah keemasan—warna yang selalu membuat hati Pak Tua Harun terasa hangat. Ia duduk di teras kayu rumahnya yang sederhana, menyeruput kopi hitam yang pahitnya tak seberapa dibanding getirnya masa lalu yang pernah ia rasakan.
Di hadapannya, terhampar petak sawah yang baru dipanen, menyisakan batang-batang padi kering dan bau tanah basah.
Pak Harun bukan orang kaya. Rumahnya tak berdinding batu, melainkan anyaman bambu yang usianya sudah lebih dari dua puluh tahun. Ia hanya memiliki satu hektare sawah warisan, dan seekor kerbau tua bernama Bima. Istrinya, Ibu Kartika, menyiapkan lauk-pauk sederhana dari hasil kebun belakang rumah.
Beberapa tahun silam, hidup terasa jauh dari kata indah. Ia sering membandingkan dirinya dengan orang-orang desa sebelah yang memiliki mobil mewah dan rumah bertingkat. Ia iri pada kemeja sutra mereka, dan cemburu pada tawa riang anak-anak mereka yang bisa kuliah di kota besar.
“Hidup ini kejam, Kartika,” keluhnya suatu malam, saat mereka hanya makan nasi hangat dan sambal terasi. “Kita tidak punya apa-apa.”
Ibu Kartika meletakkan sendoknya, menatap suaminya dengan mata teduh yang menyimpan kebijaksanaan usia.
“Harun, kamu melihat indahnya di tempat yang salah.”
“Maksudmu?”
“Kamu ingin hidup ini indah karena kita punya segalanya. Padahal, seharusnya kita mensyukuri apa yang sudah ada,” ujarnya lembut. “Lihat, kita punya atap yang melindungi dari hujan, tanah yang memberi makan, dan jantung yang masih berdetak untuk saling mencintai.”
Kata-kata itu bagai air sejuk di padang tandus. Pak Harun merenung lama, lalu mulai mengubah arah pandangnya. Ia berhenti melihat ke seberang desa, dan mulai menatap ke bawah—ke tanah, ke sekeliling, dan ke dalam dirinya.
Sejak saat itu, ia menemukan keindahan yang selama ini ia abaikan:
suara jangkrik di malam hari yang menemani tidurnya, rasa manis gula aren di kopinya, tenangnya Bima saat mengunyah rumput di senja hari, dan tawa lepas Ibu Kartika saat mengenang masa muda.
“Jadikan hidup ini indah,” gumamnya pelan, menyesap sisa kopi di teras.
Ia tetaplah Pak Harun yang sederhana—dengan rumah bambu dan kerbau tua—namun kini ia memiliki sesuatu yang lebih berharga dari harta: rasa cukup.
Malam itu, saat azan Isya berkumandang, Pak Harun berdiri. Ia menatap langit bertabur bintang, bukan dengan pandangan iri, melainkan dengan rasa syukur yang meluap.
“Terima kasih, Ya Tuhan,” bisiknya. “Terima kasih atas hidup yang indah ini. Bukan karena aku punya segalanya, tapi karena aku belajar mensyukuri apa yang ada.”
Ia masuk ke rumah, di mana lampu teplok minyak menerangi wajah Ibu Kartika yang sedang menjahit. Hangat. Damai. Indah.
Malam pun bersenandung pelan, seirama dengan hati Pak Harun yang akhirnya tahu —
keindahan sejati bukan diukur dari apa yang digenggam, melainkan dari kedalaman hati yang bisa merayakan setiap anugerah kecil dalam hidupnya.


No comments:
Post a Comment