Header

  • Breaking News

    Willem Sangkek Pahlawan yang Terlupakan


     
     
    Willem Sangkek
    Sebuah Puisi untuk Pahlawan yang Terlupakan

    Di tepi Fakfak yang sunyi,
    seorang pemuda datang membawa mimpi,
    dengan kapal motor,
    dengan niat sederhana:
    merantau, mencari arti.

    Tahun tujuh lima,
    bukan angka sejarah dunia,
    tapi sejarah kecil
    bagi seorang anak manusia.
    Ia tak membawa ijazah,
    hanya keyakinan dan nama keluarga.

    Lalu sekolah guru ia tempuh,
    menjadi murid di tengah kota kecil
    yang anginnya asin,
    dan senyumnya sepi.
    Empat tahun,
    dan gelar itu ia genggam tak dengan bangga,
    tapi dengan tanggung jawab yang dalam.

    Empat puluh lima rupiah,
    itulah awal jasanya dibayar.
    Tak banyak,
    tapi cukup untuk menghidupkan harapan
    anak-anak di kampung Pikpik
    yang mengucap A-I-U-E-O
    dari kapur yang ia gerakkan dengan sabar.

    Dua puluh tahun di sana,
    tiga belas tahun di kota.
    Dan tak satu hari pun
    ia meminta disebut mulia.

    Sebab baginya,
    kemuliaan adalah ketika
    anak didiknya pulang dengan tawa,
    menjadi dokter, petani, atau pemimpin desa.

    Ia tak pernah tampil di layar kaca,
    namanya tak dikenal selebritas,
    tapi jejaknya ada di ribuan huruf
    yang kini bisa kutulis dengan bebas.

    **

    Siapakah dia,
    yang tak bertempur namun luka?
    Yang tak bersenjata namun berjasa?
    Yang tak meminta balas,
    tapi selalu memberi terang di kelas?

    Dialah Willem Sangkek —
    seorang guru,
    seorang ayah,
    seorang pahlawan tanpa medali
    yang mengajar bukan untuk dipuja
    melainkan karena cinta
    pada ilmu
    dan masa depan manusia.


    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad