Judul : Sa Tarima, ko pung langkah terlalu jauh
_Di bawah lampu jalan yang berkedip , Sa duduk sendiri di bangku , tempat biasa kitong dua nongkrong sambil tertawa. Tapi malam ini, cuma suara jangkrik dan angin malam yang datang temani sa. Hujan belum turun, tapi langit gelap seperti hati sa yang tra bisa tertawa lagi.
Sa pu hati susah dijelaskan. Terlalu baik ko pung cara, terlalu manis ko pung kata—itu yang bikin sa awalnya jatuh. Sampe sa lupa kalau hati ini bisa terluka. ko datang, kasih harapan, bilang sayang, lalu tinggal begitu saja. ko pung janji tinggal cerita. sa cuma bisa paksa diri untuk senyum, bilang "baik-baik saja", padahal dalam hati su remuk sejak lama.
Resah hati akang manyasal. Tapi nasi su jadi bubur. ko pung langkah terlalu jauh dari sa, sampai tra ada harapan lagi untuk sa ulang kisah ini. Dan sekarang, ko pura-pura lupa, ko hidup bahagia seperti sa tra pernah ada.
Tapi tra apa-apa....o'
Sa tarima.
Biar dengan air mata yang jatuh tiap malam.
Biar dengan dada yang sesak saat dengar nama ko disebut orang.
Karena selama ini, sa yang selalu turuti iko ko pung mau. sa tinggal teman, tinggal keluarga, asal bisa ada di samping ko. Tapi ternyata sa sendiri yang paling terluka. Ternyata, Tuhan lebih tau, lebih lihat air mata yang sa simpan sendiri, diam-diam.
Waktu jalan terus, dan hari ini sa su ambil keputusan.
Atur ko pung mau, sa mo mundur jauh-jauh. Cinta ini su jadi racun. Dan sa sadar sekarang—bodohnya sa, terlalu gampang percaya. Terlalu cepat kasih hati, padahal sa tra pernah disayang betul-betul.
Akhirnya malam ini, di bawah langit gelap dan lampu yang hampir mati, sa ucap dalam hati:
"sa su sadar samua. ko bukan sa pung tampa bahagia."
Sa bangun dari bangku itu.
Langkah ini berat, tapi sa akan terus jalan.
Mungkin suatu saat luka ini sembuh.
Dan waktu itu datang,sa bisa damai, bukan karena pura-pura bahagia, tapi karena sa benar-benar lepas dari sandiwara yang koi perlihatkan.


No comments:
Post a Comment