Cinta di Hati Ini Cuma Par Ale
Judul: Cinta di Hati Ini Cuma Par Ale
Senja turun pelan di kampung tepi pantai. Langit berwarna jingga muda, laut tenang, dan angin sore membawa aroma garam bercampur daun kering. Di atas batu karang, seorang laki-laki duduk termenung sambil menatap ombak yang datang dan pergi. Namanya Gedi Layu. Di tangannya ada selembar foto lama — wajah seorang perempuan yang dulu selalu tersenyum setiap kali namanya dipanggil.
“Banya carita deng ale nona,....sio...e
sa ingat semua kenangan itu — dari tawa di bawah pohon ketapang sampai malam-malam panjang di mana mereka hanya duduk diam mendengar ombak. Cinta yang mereka jalani sederhana, tapi nyata.
Namun waktu berjalan, dan sesuatu berubah.
Kata-kata kecil jadi besar, perhatian berubah jadi salah paham.
Kini nona itu sudah pergi — bukan karena benci, tapi karena lelah.
“Sampe dimana bet pung cinta, samua akang su abis par nona...”
Gedi menunduk, matanya basah. Ia tidak mau kehilangan, tapi juga tak bisa memaksa.
“Jang se marah beta, kalau beta salah banya nona, jang se pi jauh dar beta...” katanya pada angin sore.
Ia tahu, kesalahannya bukan kecil. Mungkin terlalu banyak janji yang tak ditepati, atau terlalu banyak kata yang menyakiti. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah: cintanya.
Ia menghela napas panjang.
“Biar jua nona mau jalan jauh sampe dimana, bilang... sakarang beta iko se.”
Ia tidak akan melarang, tapi juga tidak akan berhenti berharap.
Di dadanya, cinta itu masih hidup — meski tak tahu apakah masih akan dibalas.
“Sudahh seng usah dengar orang laeng pu carita, cintaa di hati ini cuma par ale.”
Ia teringat masa tiga tahun bersama — tiga tahun yang tak mudah, tapi penuh makna.
Mereka pernah hujan-hujanan di jalan tanah, tertawa tanpa alasan, dan bertengkar hanya karena hal kecil. Tapi setelah itu selalu berbaikan, karena keduanya tahu: cinta lebih kuat dari amarah.
“Beta seng bisa jauh dar se nona, hati su jatuh ulang kali par nona... Seng bisa pisah deng ale nona, seng rasa katong su 3 tahun bersamaa.”
Kalimat itu keluar seperti doa.
Laut di depannya bergemuruh kecil. Gedi berdiri, menggenggam foto itu lebih kuat.
“Sadar samua salah yang pernah beta biking kas luka nona pung hati... Harap nona jang pigi.”
Ia tahu, mungkin sudah terlambat. Tapi cinta tidak mengenal kata menyerah.
“Rumah yang nona punya, akang masih disini. Seng pindah ka laeng hati, cuma par ale sandiri.”
Langit makin gelap, dan lampu-lampu di kampung mulai menyala.
Namun di hatinya, satu cahaya kecil tetap menyala — cahaya yang tidak padam meski waktu dan jarak memisahkan.
“Biar jua nona mau jalan jauh sampe dimana, bilang... sakarang beta iko se. Sudahh seng usah dengar orang laeng pu carita, cintaa di hati ini cuma par ale.”
Suara ombak jadi saksi.
Dan di antara desir angin malam, cinta Gedi Layu tetap tinggal — sederhana, tapi tulus.

No comments