Jejak Tinta dari Timur
Judul: “Jejak Tinta dari Timur”
_Di sebuah kamar kos kecil di sudut Yogyakarta, tahun 2006, seorang mahasiswa asal Papua bernama CS duduk di depan layar komputer tuanya. Waktu itu malam sudah lewat tengah, suara motor-motor di Jalan Kaliurang mulai sepi. Hanya bunyi ketikan keyboard yang terdengar — cepat, patah, lalu mengalir lagi.
Ia sedang menulis.
Menulis tentang rumah, tentang gunung batu di kampung, tentang ibu yang suka duduk di depan tungku, tentang rindu yang tak pernah bisa ia kirim lewat surat.
Menulis menjadi cara CS melawan sunyi.
Jauh dari tanah kelahiran, di tengah hiruk pikuk kota pelajar, ia menemukan rumah lain: rumah dalam kata-kata.
Pada tahun yang sama, CS belajar membuat website sederhana. Ia tak punya banyak uang, tapi punya rasa ingin tahu yang besar. Dari buku, dari warnet, dari teman, ia belajar sedikit demi sedikit. Website itu ia isi dengan cerita-cerita pendek — tentang kehidupan, cinta, perjuangan, dan keseharian mahasiswa perantau.
Tidak ada yang menyangka, dari hobi sederhana itu lahir karya besar.
Lebih dari 1.068 tulisan telah ia hasilkan selama bertahun-tahun.
Setiap tulisan menjadi saksi perjalanan hidupnya — dari masa kuliah yang penuh semangat, sampai masa dewasa di mana hidup menuntut banyak tanggung jawab.
Bagi CS, menulis bukan hanya soal popularitas atau angka pembaca.
Menulis adalah cara menjaga identitas dan ingatan.
Melalui cerpen-cerpen itu, ia menyimpan potret Papua dari sudut yang lembut dan manusiawi — bukan sekadar berita, tapi rasa.
Kadang tulisannya bercerita tentang kampung yang sepi di bawah cahaya bulan, tentang anak kecil yang bermimpi jadi guru, atau tentang pemuda yang belajar percaya pada dirinya sendiri. Semua ditulis dengan jujur, tanpa banyak hiasan, tapi penuh makna.
Waktu berjalan. Dunia berubah cepat.
Namun website itu tetap hidup — menjadi arsip perjalanan seorang anak Papua yang tak berhenti menulis, meski tak selalu mendapat tepuk tangan.
Kini, setelah hampir dua dekade menulis, CS menjadi inspirasi bagi banyak orang muda di Papua dan Indonesia. Ia membuktikan bahwa dari ruang kecil di Yogyakarta, suara seorang anak dari Timur bisa menggema jauh — lewat cerita, lewat tulisan, lewat kata-kata yang jujur.
Ia sering bilang,
“Menulis itu bukan tentang siapa yang baca, tapi tentang siapa yang tetap hidup lewat tulisan itu.”
Dan memang benar, selama kata-kata masih mengalir dari hatinya, tinta CS takkan pernah kering.
Sebab di setiap huruf yang ia tulis, ada cahaya kecil dari Papua — yang tak pernah padam.
#fyp #foto #teks

No comments