Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Beta Ada Par Se

    Beta Ada Par Se
    Judul: Beta Ada Par Se

    Hujan sore itu turun pelan di kampung nelayan, membasahi atap seng dan jalan tanah yang berlumpur. Udara dingin, tapi di bawah pohon ketapang tua dekat pantai, Randy masih berdiri. Payung di tangannya sudah bocor, tapi ia tak peduli. Di depannya, Maya duduk di atas batu karang, menatap laut.

    “Kal su par bagini,” suara Randy akhirnya pecah di antara gemericik air hujan, pelan tapi pasti.
    “Seng usah manangis, Maya. Samua su terjadi, mau apa lai, mmm… Saki itu manusiawi, jang susah hati.”

    Maya menunduk. Air mata bercampur air hujan di pipinya. “Beta cuma tra sangka, dia bisa tinggal begitu saja. Tanpa pamit, tanpa alasan…”

    Randy menarik napas panjang, lalu duduk di sampingnya. “Mungkin saat ini kecewa ale tarima. Tapi percaya saja, Maya, samua ada waktunya. Masih banyak yang sayang Ale. Masih banyak cinta par Ale.”

    Suara ombak memecah sunyi. Randy melirik wajah Maya — perempuan yang dulu selalu tertawa keras setiap kali matahari terbenam di pantai ini. Sekarang tawanya hilang, tergantikan diam yang berat.

    “Dar dasar hati bet bilang par Ale,” ucap Randy, suaranya lembut tapi dalam.
    “Beta slalu ada par se, nona. Jang simpang sandiri Ale pung rasa saki. Beta ada di sini.”

    Maya menatap Randy, matanya penuh tanya. “Kenapa ko tra pernah bosan par datang, Ren? Padahal beta cuma carita kesedihan.”

    Randy tersenyum kecil, menatap laut yang mulai mereda ombaknya.
    “Karena beta tra datang cuma waktu Ale senang. Beta datang karna Ale penting. Deng tulus hati, bet bilang par Ale — beta ada par se pung suka duka. Dan sampe nanti, akang jadi carita. Dan bahagia.”

    Hujan perlahan berhenti. Matahari muncul samar di balik awan. Maya menarik napas, kali ini lebih tenang.
    “Terima kasih, Ren,” katanya lirih. “Mungkin beta belum bisa lupa, tapi beta rasa su bisa mulai belajar sembuh.”

    Randy tersenyum, menatap jauh ke arah cakrawala. “Beta seng buru-buru, Maya. Yang penting, Ale tahu beta tetap di sini.”

    Dan di bawah langit yang baru saja selesai menangis, dua orang itu duduk berdampingan tanpa banyak kata.
    Kadang, cinta bukan tentang memiliki. Tapi tentang tetap tinggal — saat yang lain memilih pergi.

    “Beta tetap ada par se, Maya. Sampe nanti, akang jadi carita, dan bahagia.”

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad