Notification

×

Kategori Berita

Tags

Kode Iklan Disini

Kode Iklan Disini

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kata Akhir Tak Pernah Diucap

Sunday, 20 July 2025 | July 20, 2025 WIB Last Updated 2025-07-20T14:57:12Z
Kata Akhir Tak Pernah Diucap
Judul : Kata Akhir Tak Pernah Diucap
(Dalam Tiga Bagian – Awal, Konflik, Akhir)

Bagian I: Saat Semua Masih Indah
_Waktu pertama katong bertemu, itu di bawah gapura jalan raya antarkota. Sa baru saja tiba—lelah masih menempel di wajah—dan beberapa menit kemudian ko datang, membawa sejuta harapan dan senyum yang entah kenapa langsung bikin hati ini tenang.

Hari-hari berikutnya, kita makin sering ketemu. Di warung kecil belakang asrama, di burjo pinggir jalan—tempat kita hanya pesan teh manis dan duduk berjam-jam, bicara soal masa depan dan mimpi-mimpi yang masih kabur tapi terasa mungkin.

“Dia cuma mau punya uang, lalu pergi jalan-jalan ke Paris. Kalau tidak, beli mobil dan keluar kota, nikmati hidup yang ada. Cukup buat dua orang,” katanya waktu itu. Senyumnya malu-malu, tapi matanya penuh keyakinan.

Sa jawab sambil tertawa kecil,
“Kalau bicara cinta, lihat saja… radio tua di warung burjo. Dia juga bisa nyanyi lagu cinta dalam diam, penuh bahagia.”

Waktu berjalan, dan cinta itu tumbuh perlahan. Tidak meledak, tapi menyala. Seperti tanaman yang tiap pagi disiram—sederhana, tapi penuh warna. Dalam diam yang kita rawat, ada tawa-tawa kecil, percakapan ringan, dan rencana-rencana kecil yang tak pernah terasa terlalu tinggi.

Bagian II: Jangan Diam Saja,
_Tapi entah sejak kapan, dia mulai berubah. Pulang terlambat. Lebih sering marah-marah. Kadang jawab pun setengah hati—seperti suara yang datang dari tempat yang tidak lagi mengenal sa.

Dan malam itu, semuanya pecah—dalam diam yang terlalu panjang dan menyesakkan.

"ko, ada apa? Mengapa mara terus?"
Sa bertanya, sambil menatap matanya yang kini terasa jauh sekali.

"Coba jelaskan ke sa... agar sa pu hati ini tenang."

Ia hanya menunduk. Tak ada jawaban.
Hanya detik waktu dan suara lagu dari sebuah HP.

"Kalau memang ada sesuatu... tolong jujur ke sa. Biar sa juga bisa atur posisi... antara pergi dan bertahan..."

Suara sa gemetar. Tapi dia tetap diam. Pandangannya kosong, seperti tidak lagi mengenal siapa yang bicara di depannya.

“Ko... jangan diam saja…”

Dan begitulah malam itu berakhir. Dengan kata-kata yang tak dibalas. Dengan tatapan yang tak menyambut.

Bagian III: Saat Kata Akhir Tak Pernah Diucap
_Sudah seminggu sejak pertemuan terakhir itu..Dia pergi tanpa sepatah kata. Tak juga tinggalkan pesan suara. Hanya satu pesan WA, dikirim tengah malam:

"Dia sudah ada yang lain. Bukan karena sa tidak cinta, tapi karena sa rasa… katong dua harus pisah. Jaga diri baik-baik, dan carilah seseorang yang bisa bikin ko utuh, bukan hancur pelan-pelan."

Sa baca pesan itu berkali-kali. Tak ada amarah. Hanya dada yang sesak.

Jika ini memang jalan hidup, sa terima.
Sa tidak menyalahkan takdir. Tidak juga dia—yang sudah memilih pergi.

Mungkin memang begitu cara cinta berakhir.
Bukan dengan pertengkaran.
Bukan dengan pelukan perpisahan.
Tapi dengan kebisuan yang tak pernah dijelaskan.

No comments:

Post a Comment

-

================ =

Recent Posts

kunjungi alamat youtube

CHADOS SANGKEK ALAMAT KAMPUNG SKENDI SORSEL

Comments system

Subscribe Us

×
Chados Sangkek update
               
         
   
       
 
"CHADOS": { "SANGKEK": "DESAINER", "WEB": { "INI": "JIKA", "ADA YANG BERMINAT": "", "UNTUK PEMBUATAN WEB": ["BISA HUBUNGIN CHADOS SANGKEK "] } }