![]() |
“Air dari Batu” Dari Ela Jadi Papeda |
Di tengah hutan hijau yang sunyi di balik Kampung , suara gemericik air terdengar lirih tapi pasti. Di sanalah seorang perempuan muda berdiri di tepi aliran kecil yang jernih. Di hadapannya, selembar daun besar menampung air yang terus menetes dari celah batu, seolah bumi sendiri sedang memberikan kehidupan.
Namanya Ida Ronsumbre.Setiap pagi, ia berjalan sejauh dua kilometer menuju mata air itu, membawa ember merah dan selembar jaring hijau yang selalu ia sebut “jaring kehidupan”. Dari tempat itu, Ida menyaring sari sagu — bahan makanan utama yang menjadi napas sehari-hari keluarganya.
Tangan Ida cekatan. Ia memeras ampas sagu, menatap air keruh yang perlahan berubah bening di bawah sinar matahari yang menembus sela daun rumbia. Peluhnya menetes, tapi senyum kecil tetap terukir di wajahnya. Bagi banyak orang, pekerjaan ini mungkin berat, tapi bagi Ida, ini adalah bentuk kasih.
“Sa kerja bukan cuma untuk makan,” katanya suatu kali kepada temannya. “Sa kerja supaya anak-anak nanti tahu, hidup di tanah ini harus dari tangan sendiri.”
Setiap kali ia menekan jaring, air menetes ke dalam wadah bambu, lalu mengalir turun membentuk endapan putih — sagu murni. Di situlah Ida menemukan ketenangan. Alam menjadi saksi kesetiaannya pada tradisi, pada cara hidup orang tua dulu yang tak tergantikan oleh modernitas.
Saat matahari mulai miring ke barat, Ida mengangkat ember berisi hasil perasan hari itu. Hutan seakan berdoa untuknya, dan angin membelai lembut rambutnya yang lembap.
“Air dari batu,” bisiknya pelan, “itulah berkat Tuhan yang Sa syukuri tiap hari.”
Ia pun melangkah pulang melewati jalan setapak, meninggalkan suara air yang terus mengalir — tanda bahwa kehidupan di tanah Papua tak pernah berhenti, selama masih ada perempuan seperti Ida Ronsumbre yang menjaga denyut alamnya dengan cinta dan kerja keras.


No comments:
Post a Comment